Barbershop dan Budaya Maskulinitas di Indonesia


Barbershop dan Budaya Maskulinitas di Indonesia

Barbershop telah menjadi bagian penting dari budaya maskulinitas di Indonesia. Dari ujung Sumatera hingga ujung Papua, barbershop dapat ditemukan dengan mudah. Barbershop bukan hanya sekadar tempat untuk mencukur rambut, tetapi juga tempat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan merasakan maskulinitas.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. R. Rijal, seorang pakar sosiologi dari Universitas Indonesia, barbershop merupakan tempat yang memberikan kesempatan bagi pria untuk merayakan maskulinitas mereka. “Di barbershop, pria dapat merasa nyaman untuk berbicara tentang hal-hal yang terkait dengan kehidupan pribadi mereka, termasuk masalah maskulinitas,” ujarnya.

Tidak hanya itu, barbershop juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas maskulinitas di Indonesia. Menurut Dr. A. Wahab, seorang ahli antropologi budaya dari Universitas Gadjah Mada, barbershop merupakan tempat di mana pria belajar tentang norma-norma maskulinitas yang berlaku dalam masyarakat. “Di barbershop, pria belajar bagaimana berperilaku sesuai dengan ekspektasi sosial tentang maskulinitas,” ungkapnya.

Namun, tidak semua orang setuju dengan peran barbershop dalam membentuk budaya maskulinitas di Indonesia. Menurut Dr. S. Putra, seorang aktivis gender dari Universitas Padjadjaran, barbershop seringkali memperkuat stereotip tentang apa yang dianggap sebagai maskulinitas yang ideal. “Barbershop seringkali menjadi tempat di mana pria merasa perlu untuk menunjukkan kejantanan mereka dengan cara-cara yang tidak selalu positif,” katanya.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa barbershop tetap merupakan bagian penting dari budaya maskulinitas di Indonesia. Dengan peran yang kompleks dan beragam, barbershop terus menjadi tempat yang menarik untuk diteliti dalam konteks budaya dan identitas gender di Indonesia.